Jumat, 17 Januari 2020


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MICROBIOLOGI
ALT (ANGKA LEMPENG TOTAL) DENGAN SAMPEL PENTOL DI DAERAH JALAN PAGESANGAN






OLEH
KELOMPOK 2

1.      Kholifah Wahyu Fitriani         (1351810073)
2.      Anry Arista Pancawati            (1351810087)
3.      Karina Widyastuti                  (1351810129)
4.      Leady Ayu Susanti Permadi   (1351810153)
5.      Widya Risky Saraswati           (1351810135)
6.      Olyvia Diah Anggraeni           (1351810103)
7.      Febrian Rizki Puji Hartono     (1351810105)












AKADEMI FARMASI SURABAYA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme. Mikroorganisme adalah suatu mikroba yang berukuran sangat kecil sehingga apabila melihatnya memerlukan alat bantu agar dapat melihat mikroorganisme tersebut karena apabila hanya dilihat dengan mata telanjang maka tidak akan terlihat sehingga membutuhkan alat bantu untuk melihat mikroba yang berukuran sangat kecil tersebut. Alat yang biasa digunakan adalah mikroskop.
Mikroorganisme terdiri dari bakteri, virus, golongan fungi, dan protozoa. Dalam praktikum ini akan memberikan suau pembelajaran dimana bahwa tanpa kita sadari ataupun sebetulnya kita megetahuinya bahwa dilingkungan baik makanan, minuman, ataupun udara sekitar yang sering kita rasakan dan bahkan kita konsumsi setiap hari mengandung bakteri yang tidak di duga. Praktikum kali ini menggunakan makanan dan minuman yang akan kita kembangbiakan dengan media cair NB (Nutrient Broth) yang akan diencerkan dan ditumbuhkan di media padat NA (Nutrient Agar), kemudian akan diamati dengan mikroskop bakteri apa yang diduga yang berada dalam makanan dan minuman tersebut. Untuk pengembangbiakan jamur akan digunakan media padat dari SDA (Saboraud Dextrose Agar). Makanan yang diteliti adalah pentol dan tahu untuk minuman yang diteliti adalah tebu dan sinom yang berada di daerah Jalan Pagesangan.
Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji Angka Lempeng Total (ALT) menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual berupa angka dalam koloni (cfu) per ml/gram atau koloni/100ml. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes, dan cara sebar (BPOM, 2008).
Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah mikroba dalam bahan pangan antara lain dengan metode permukaan. Agar steril terlebih dahulu dituangkan kedalam cawan petri dan dibiarkan membeku. Setelah membeku dengan sempurna, kemudian sebanyak 0,l ml contoh yang telah diencerkan di pipet pada permukaan agar tersebut. Sebuah batang spreader (hockey stick) dicelupkan kedalam alkohol 70% dan dipijarkan sehingga alkohol habis terbakar. Setelah dingin batang gelas spreader tersebut digunakan untuk meratakan contoh diatas medium agar dengan cara memutarkan cawan petri diatas meja. Selanjutnya inkubasi dan perhitungan koloni dilakukan seperti pada metode penuangan, tetapi harus diingat bahwa jumlah contoh yang ditumbuhkan adalah 0,1 ml dan harus dimasukan dalam perhitungan "Total Count" (Thayib dan Amar, 1989).
Metode hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jadi jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terkandung dalam sampel. Dan mencawankan hasil pengenceran tersebut. Setelah inkubasi, jumlah koloni masing-masing cawan diamati. Untuk memenuhi persyaratan statistik, cawan yang dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang mengandung antara 30 sampai 300 koloni. Karena jumlah mikroorganimse dalam sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukan sederatan pengenceran dan pencawanan.
1.2  Rumusan Masalah
Berapa total koloni yang terbentuk dalam media padat NA dan SDA? Koloni apa saja yang berbeda yang apabila dilihat dari mikroskop?

1.3  Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pencemaran yang terdapat dalam sampel dengan menggunakan metode ALT (Angka Lempeng Total).
1.3.2 Unuk menentukan standart kualitas makanan dan minuman yang tealah diperiksa melalui angka koloni dengan menggunakan metode angka lempeng total.

1.4  Manfaat
1.4.1 Mengetahui standart kualitas makanan dan minuman yang telah diuji menggunakan angka lempeng total berdasarkan koloni bakteri yang telah dihitung.
1.4.2 mengetahui pencemaran bakteri yang ada dalam sampel yang telah dikembangbiakan berdasarkan media padat untuk bakteri di NA dan untuk jamur di SDA.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Angka Lempeng Total
Angka lempeng total adalah angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil dalam tiap-tiap 1 ml atau 1 gram sampel makanan yang diperiksa. Prinsip dari ALT adalah menghitung pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah sampel makanan ditanam pada lempeng media yang sesuai dengan cara tuang kemudian dieramkan selama 24-48 jam pada suhu 35-37°C (Joko Wibowo Ristanto, 1989).Uji angka lempeng total merupakan metode yang umum digunakan untuk menghitung adanya bakteri yang terhadap dalam sediaan yang diperiksa.
Metode penentuan angka lempeng total ini digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisma aerob dan anaerob (psikrofilik, mesofilik dan termofilik) .
a.    Psikofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu kurang dari 20°C,
b.    Mesofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu 20 °C-40°C
c.    Termofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu lebih besar dari 40°C.
Angka lempeng total aerob adalah jumlah mikroorganisma hidup yang membutuhkan oksigen yang terdapat dalam suatu produk yang diuji. Pertumbuhan mikroorganisme aerob dan anaerob (psikrofilik, mesofilik dan termofilik) setelah contoh diinkubasikan dalam media agar pada suhu 35°C ± 1°C selama 24 jam 48 jam ± 1 jam mikroorganisme ditumbuhkan pada suatu media agar, maka mikroorganisma tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dengan membentuk koloni yang dapat langsung dihitung.
Populasi bakteri dihitung dengan cara mengencerkan sampel atau bahan uji, dilanjutkan dengan melakukan inokulasi semua hasil pengenceran didalam media pelat. Jumlah koloni yang dapat tumbuh pada pelat dihitung secara manual dengan bantuan “Colony Counter”. Jumlah koloni yang memenuhi ketentuan perhitungan adalah 25-30 sampai 250-300 koloni pada media pelat.


Artinya: Bila percobaan menunjukan data terdapat populasi 20 koloni pada pelat hasil pengenceran ke-4 dan 200 koloni pada pengenceran ke-3, maka kesimpulannya adalah bahan uji mengandung = 200 x 10³ = 200.000 koloni bakter  / mL atau perhitungan berdasarkan pada koloni yang tumbuh pada hasil pengenceran ke-3.
Metode ini dapat dianggap yang paling sensitive kerena sel hidup yang dapat terhitung, beberapa jenis mikroorganisme dapat dihitung sekaligus dan dapat digunakan utuk isolasi dan identifikasi karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel induk.
Uji angka lempeng total dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu teknik cawan tuang (pour plate) dan teknik sebaran (spread plate). Pada prinsipnya dilakukan pengenceran terhadap sediaan yang diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada media lempeng agar. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah inkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai. Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni bakteri antara 30-300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni bakteri hasil perhitungan dikalikan faktor pengenceran.
Jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dapat dihitung dengan menggunakan mata tanpa mikroskop. Metoda hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jaasad renik karena beberapa hal yaitu :
1.    Hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung.
2.    Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung satu kali.
3.    Dapat digunakan untuk isolasi dan identitas jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari jasad renik yang menetap menampakkan pertumbuhan yang spesifik.
2.2 Perhitungan Angka Kuman

Menghitung atau menentukan banyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih di bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lambaga. Kandungan mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan oleh tingkat kelayakan untuk dikonsumsi.

Adanya jumlah angka lempeng total yang ditemukan pada suatu sampel dapat dijadikan acuan bahwa sampel tersebut masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Adapun untuk batas persyaratan perhitungan dari angka lempeng total adalah :

1.    Mikroba yang dapat dihitung 30-300 koloni

2.    <30 koloni, dianggap cemaran

3.    >300 koloni, spreader atau tak terhingga sehingga tak dapat dihitung

4.    Jumlah bakteri adalah jumlah koloni x factor pengenceran

5.    Perbandingan jumlah bakteri dari pengenceran berturut-turut antara pengenceran yang akhir dengan pengenceran yang sebelumnya

6.    Jika sama atau kurang dari 2 maka hasilnya dirata-rata

7.    Jika lebih dari 2 digunakan pengenceran sebelumnya.

 

2.3 Cara Menghitung Angka Lempeng Total

Dari semua cawan petri yang telah diinkubasi, dipilih cawan petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 30-300. Apabila terdapat lebih dari satu cawan petri yang menunjukkan pertumbuhan koloni antara 30-300 maka digunakan 2 pengenceran. Jumlah koloni rata-rata dari kedua cawan tersebut dihitung lalu dikalikan dengan factor pengencerannya.

Hasil menyatakan sebagai angka lempeng total dlam tiap gram contoh. Untuk beberapa kemungkinan lain yang berbeda dari pertnyataan diatas, maka petunjuk sebagai berikut :

1.    Bila satu diantara petri dari pengenceran yang sama menunjukkan jumlah 30-300 koloni, dihitung rata-rata kedua cawan dikalikan factor pengenceran.

2.    Bila pada cawan petri pada kedua tingkat pengenceran yang berurutan menunjukkan jumlah antara 30-300 koloni, maka dihitung jumlah koloni dan dikalikan factor pengenceran kemudian diambil rata-rata. Jika pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni lebih besar dari 2kali jumlah koloni pada pengenceran dibawahnya, maka dipilih tingkat pengenceran terendah (missal pada pengenceran 10-2 diperoleh 140 koloni dan pada pengenceran 10-3 diperoleh 32 koloni, maka yang dipilih jumlah koloni pada tingkat pengenceran 10-2 yaitu 140 koloni)

3.    Bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 30-300 koloni, maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai angka lempeng total perkiraan.

4.    Bila tidak ada pertumbuhan pada semua cawan dan bukan disebabkan karena factor inhibitor, maka angka lempeng total dilaporkan sebagai kurang dari satu dikalikan factor pengenceran terendah

5.    Bila jumlah koloni percawan lebih dari 300, maka cawan dengan tingkat pengenceran tertinggi dibagi dalam beberapa sector (2,4, dan 8) jumlah koloni dikalikan dengan factor pengencerannya. Hasil dilaporkan sebagai angka lempeng total perkiraan.

6.    Bila jumlah koloni lebih besar dari 200 dari  bagian cawan, maka jumlah koloni adalah 200x8xfaktor pengenceran. Angka lempeng total perkiraan dihitung sebagai lebih besar dari jumlah koloni diperoleh. (Srikandi Fardiaz, 1989)

 

Ø  Kelebihan dari metode hitungan cawan:

1.     Masih hidup yang hidup yang dihitung

2.     Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus

3.    Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal sari suatu jasad renik yang memiliki penamapakan pertumbuhan spesifik.

Ø  Kekurangannya, yaitu:

1.    Hasil hitungannya tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karenbeberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.

2.     Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.

3.     Jasad renik yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan  membentuk koloni yang kompak dan jelas, tidak menyebar.

 

 

 

 

 

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum ini adalah tanggal 5 Desember 2019 pada pukul 08.00 sampai dengan 11.20. Tempat pelaksanaan praktikum ini adalah di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Surabaya.

3.2 Bahan dan Alat
            Bahan yang dibutuhkan adalah NA (Nutrient Agar, NB (Nutrient Broth), dan SDA (Saboraud Dextrose Agar), Pentol, Tahu, Sinom, dan Tebu.
            Alat yang dibutuhkan adalah mikroskop, pipet ukur, alat-alat yang steril antara lain tabung reaksi, cawan petri, batang spreader, beaker glass dan beberapa alat steril lainnya.

3.3 Metode Pelaksanaan
            3.3.1 Menyiapkan alat yang dibutuhkan
            3.3.2 Menyiapkan sampel yang telah dilarutkan
            3.3.3 Melakukan pengenceran terhadap sampel
3.3.4 Pembuatan media NA untuk pengembangbiakan bakteri berdasarkan pengenceran
         yang sesuai
            3.3.5 Penanaman bakteri dengan metode streak lalu diinkubasi 1X24 jam
            3.3.6 Lalu diamati dengan menghitung koloni yang terbentuk dan diamati secara
         mikroskopis dan makroskopis







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Prosedur kerja Angka Lempeng Total
Sampel yang digunkan untuk kelompok kami adalah pentol. Setiap prosedur yang dikerjakan pada praktikum mikrobiologi alat ataupun media yang akan digunakan wajib terlebih dahulu telah steril barulah dapat digunakan untuk praktikum.
            4.1.1 Tahap Pelarutan Sampel
1. Pentol yang sudah kita beli di Jalan Pagesangan kita haluskan terlebih dahulu hingga bener-bener halus tanpa di beri tambahan air pada saat menghaluskannya. Menghaluskannya menggunakan bantuan alat mortar dan stamfer.
2. Kemudian di larutkan dalam 50 ml Nacl lalu kita aduk hingga bener-bener tercampur rata kami menggunakan bantuan alat vortex untuk meratakan supaya benar-benar homogen.
4.1.2 Tahap pembuatan Media
Media yang dibutuhkan adalah media cair NB dan media padat NA
Pembuatan media NB :
Diperlukan media NB sebanyak 5 tabung reaksi karena kita akan mengencerkan sampel yang sudah dilarutkan sampai 10 pangkat 5. Cara pembuatannya timbang NB sebanyak 0,04 gram dan dilarutkan dengan aquadest sebanyak 50 ml di Erlenmeyer kemudian aduk ad homogen dengan bantuan batang pengaduk dan sterilkan ke dalam autoclave dengan menutup mulut Erlenmeyer menggunakan sumbat dengan menggunakan suhu 121 derajat Celcius dengan tekanan 1 atm. Tuangkan ke tabung reaksi sebanyak 9 ml/ tabug reaksi dan ditutup menggunakan sumbat.
Pembuatan media NA :
Di perlukan sebanyak 5 cawan petri berisi NA yang sudah padat dan steril tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dibutuhkan 5 cawan petri untuk menanam atau mengisolasi bakteri yang ada pada sampel sesuai dengan pengenceran yang ada di NB jadi cawan petri 10 pangkat 1 akan di streak dari NB 10 pangkat 1 juga dan seperti itu sampai 10 pangkat 5. Cara pembuatannya adalah timbang NA sebanyak 4 gram dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 200 ml kemudian di aduk di Erlenmeyer hingga homogen menggunakan bantuan batang pengaduk lalu dipanaskan hingga berubah menjadi jernih warnanya kemudian di sterilkan di autoclave denan suhu 121 derajat celcius dan dengan tekanan 1 atm. Tuangkan di cawan petri sebanyak 15 ml/ cawan petri lalu tutup dengan menggunakan plastic wrap.
4.1.3 Pengenceran
Tahap pengenceran ini adalah mengembangbiakan mikroba melalui media cair hingga di ratakan sampai 10 pangkat 5 oleh karena itu membutuhkan tabung reaksi ebanyak 5 tabung dan cawan petri sebanyak 5 cawan petri .
Caranya :
1.      Homogenkan sampel dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex
2.      Pipet larutan sampel sebanyak 1 ml dengan meggunakan pipet ukur kemudian pindahkan kedalam tabung rekasi yang telah dinamai 10 pangkat 1, jadi sebelum di pipet ada baiknya jika setiap tabung reaksi kita beri nama hingga 10 pangkat 5.
3.      Setelah di pipet kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 1 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
4.      Setelah itu dari 10 pangkat 1 setelah homogen di pipet dari 10 pangkat 1 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 2 kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 2 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
5.      Setelah itu dari 10 pangkat 2 setelah homogen di pipet dari 10 pangkat 2 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 3 kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 3 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.




6.      Setelah itu dari 10 pangkat 3 setelah homogen di pipet dari 10 pangkat 3 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 4 kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 4 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
7.      Setelah itu dari 10 pangkat 4 setelah homogen di pipet dari 10 pangkat 4 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 5 kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 5 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
8.      Setelah selesai sampel dapat di buang dan dibersihkan kemudian alat yang setelah selesai digunakan di sterilkan kembali dan untuk pengenceran yang telah selesai dilakukan maka di inkbasi selama 1 hari atau 24 jam di alat incubator.
4.1.4 Isolasi Bakteri
Setelah selesai diencerkan dan di inkubasi selama 1 hari atau 24 jam dan media padat NA juga sudah disiapkan sebanyak 5 cawan petri yang tidak terkontaminasi dan telah selesai diberi label 10 pangkat 1 – 5 kemudian saatnya di streak atau di isolasi untuk mengidentifikasi dan menghitung berapa koloni yang muncul dan bakteri gram apa yang muncul. Teknik streak/ goresan yang digunakan adalah teknik streak/ goresan sinambung.
Langkah-langkahnya :
1.      Siapkan NB yang telah selesai di inkubasi
2.      Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 1 diletakkan pada cawan petri yang telah di beri nama 10 pangkat 1 kemudian di ambil 1 totol dengan menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 1 juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.


3.      Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 2 diletakkan pada cawan petri yang telah di beri nama 10 pangkat 2 kemudian di ambil 1 totol dengan menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 2 juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
4.      Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 3 diletakkan pada cawan petri yang telah di beri nama 10 pangkat 3 kemudian di ambil 1 totol dengan menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 3 juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
5.      Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 4 diletakkan pada cawan petri yang telah di beri nama 10 pangkat 4 kemudian di ambil 1 totol dengan menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 4 juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
6.      Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 5 diletakkan pada cawan petri yang telah di beri nama 10 pangkat 5 kemudian di ambil 1 totol dengan menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 5 juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
7.      Kemudian setelah selesai di wrap cawan petri dan di inkubasi selama 1 hari atau 24 jam barulah keesokaan harinya dapat segera diamati.

4.1.5 Pengamatan
Tahap ini adalah tahap dimana telah selesai dari beberapa tahap diatas diaman merupakan tahapan akhir dalam uji ALT (Angka Lempeng Total).
1.      Pengamatan jumlah bakteri yang muncul di permukaan media padat NA
Berdasarkan jurnal syarat jumlah coloni yang masih ambang batas dan aman dikonsumsi adalah terdapat kurang dari 25 – 250 jumlah koloni jika melebihi diatasnya maka makanan atau minuman tersebut tidak layak untuk dikonsusmsi ini berdasarkan jurnal (Inur Tivani.2018. Uji Angka Lempeng Total pada Jamu Gendong Temu Ireng DiDesa Tanjung kabupaten Brebes. Volume 7 Nomor 1 Januari 2018). Dan di jurnal tersebut mengatakan bahwa semakin tinggi angka pengenceran maka bakteri yang dihasilkan semakin sedikit itu juga menjadi salah satu standart mutu makanan dan minuman.

Dalam pratikum ini kelompok kami tidak dapat menghitug koloni yng terbentuk karena koloni yang terbentuk dalam setiap cawan petri kumpul menjadi satu sehingga terbentuk koloni yang sangat besar jadi kami tidak dapat menghitung berapa koloni yang terbentuk. Untuk yang bias diamati juga hanya terdapat 3 cawan petri saja karena 2 cawan petri sisanya kontaminasi.














2.      Pengamatan bakteri
Dalam pengamatan bakteri kami tiak dapat menentukan itu termasuk dalam bakteri apa yang bias kami tentukan hanyalah gram dari bakteri dan diamati secara mikroskopis serta makroskopis.

Berikut hasilnya :
Cawan petri 10 pangkat 1


Secara mikroskopis termasuk ke dalam gram positif karena berwarna ungu dan berbentuk bacil atau batang.
Secara makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang mempunyai margin entare elevasi conves dan bentuk circular.

Cawan petri 10 pangkat 2


Secara mikroskopis termasuk ke dalam gram negatif karena berwarna merah dan berbentuk bacil atau batang.
Secara makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang mempunyai margin undulate elevasi conves dan bentuk irregular

Cawan petri 10 pangkat 3

Secara mikroskopis termasuk ke dalam gram positif karena berwarna ungu dan berbentuk bulat atau coccus.
Secara makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang mempunyai margin serrase elevasi conves dan bentuk circular.

 

Dalam pengamatan kami tidak mengamati kapang/ jamur yang menggunakan media SDA karena waktu yang tidak cukup karena pada saat pembuatan media NA terjadi kontaminasi sehingga kami harus mengulang dan untuk media SDA tidak dapat diamati.



BAB V

KESIMPULAN

 

            Kesimpulan yang baik adalah mengethaui berapa total koloni yang muncul sehingga dapat disimpulkan apakah pentol di daerah Jalan Pagesangan baik atau layak untuk dikonsumsi atau tidak berhubung kelompok kami tidak dapat dihitung dikarenakan koloni yang terbentuk sangat besar tidak memisah sehingga tidak dapat dihitung dan hanya bias diamati. Ketika diamati ternyata terdapat bakteri gram positif dan negative di dalam makanan pentol yang di beli di daerah Jalan Pagesangan tidak dapat disebutkan termasuk dalam bakteri apa namanya karena memerlukan alat khusus untuk mendeteksinya.





BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Tivani Inur. 2018. Uji Angka Lempeng Total pada Jamu Gendong Temu Ireng di Desa Tanjung
Kabupaten Brebes. Volume 7 Nomor 1 Januari 2018. Di Kutip 12 Januari 2020 dari Uji
Angka Lempeng Total pada Jamu Gendong Temu Ireng di Desa Tanjung Kabupaten Brebes. file:///C:/Users/HPP/Downloads/751-2403-1-PB.pdf

I. Faridz Faisal. 2016. Laporan Angka Lempeng Total Metode Cawan Tuang (TPC). Dikutip 12
Januari 2020 dari Laporan Angka Lempeng Total Metode Cawan Tuang (TPC). http://faisalgntng.blogspot.com/2016/03/laporan-angka-lempeng-total.html

Pendidikan. 2014. Laporan ALT Bakteri. Dikutip 12 Januari 2020 dari Laporan ALT Bakter.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar