LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM MICROBIOLOGI
ALT (ANGKA LEMPENG
TOTAL) DENGAN SAMPEL PENTOL DI DAERAH JALAN PAGESANGAN
OLEH
KELOMPOK 2
1. Kholifah
Wahyu
Fitriani (1351810073)
2. Anry
Arista
Pancawati (1351810087)
3. Karina
Widyastuti (1351810129)
4. Leady
Ayu Susanti Permadi (1351810153)
5. Widya
Risky
Saraswati (1351810135)
6. Olyvia
Diah
Anggraeni (1351810103)
7. Febrian
Rizki Puji Hartono (1351810105)
AKADEMI FARMASI
SURABAYA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Mikrobiologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme. Mikroorganisme adalah
suatu mikroba yang berukuran sangat kecil sehingga apabila melihatnya
memerlukan alat bantu agar dapat melihat mikroorganisme tersebut karena apabila
hanya dilihat dengan mata telanjang maka tidak akan terlihat sehingga
membutuhkan alat bantu untuk melihat mikroba yang berukuran sangat kecil
tersebut. Alat yang biasa digunakan adalah mikroskop.
Mikroorganisme
terdiri dari bakteri, virus, golongan fungi, dan protozoa. Dalam praktikum ini
akan memberikan suau pembelajaran dimana bahwa tanpa kita sadari ataupun
sebetulnya kita megetahuinya bahwa dilingkungan baik makanan, minuman, ataupun
udara sekitar yang sering kita rasakan dan bahkan kita konsumsi setiap hari
mengandung bakteri yang tidak di duga. Praktikum kali ini menggunakan makanan
dan minuman yang akan kita kembangbiakan dengan media cair NB (Nutrient Broth)
yang akan diencerkan dan ditumbuhkan di media padat NA (Nutrient Agar),
kemudian akan diamati dengan mikroskop bakteri apa yang diduga yang berada dalam
makanan dan minuman tersebut. Untuk pengembangbiakan jamur akan digunakan media
padat dari SDA (Saboraud
Dextrose Agar). Makanan yang diteliti adalah pentol dan tahu untuk minuman yang
diteliti adalah tebu dan sinom yang berada di daerah Jalan Pagesangan.
Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba
yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT).
Uji Angka Lempeng Total (ALT) menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa
koloni yang dapat diamati secara visual berupa angka dalam koloni (cfu) per
ml/gram atau koloni/100ml.
Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes, dan cara sebar
(BPOM, 2008).
Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah mikroba dalam
bahan pangan antara lain dengan metode permukaan. Agar steril terlebih dahulu
dituangkan kedalam cawan petri dan dibiarkan membeku. Setelah membeku dengan
sempurna, kemudian sebanyak 0,l ml contoh yang telah diencerkan di pipet pada
permukaan agar tersebut. Sebuah batang spreader (hockey stick) dicelupkan
kedalam alkohol 70% dan dipijarkan sehingga alkohol habis terbakar. Setelah
dingin batang gelas spreader tersebut digunakan untuk meratakan contoh diatas
medium agar dengan cara memutarkan cawan petri diatas meja. Selanjutnya
inkubasi dan perhitungan koloni dilakukan seperti pada metode penuangan, tetapi
harus diingat bahwa jumlah contoh yang ditumbuhkan adalah 0,1 ml dan harus
dimasukan dalam perhitungan "Total Count" (Thayib dan Amar, 1989).
Metode hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap
sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jadi jumlah koloni
yang muncul pada cawan merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat
hidup yang terkandung dalam sampel. Dan mencawankan hasil pengenceran tersebut.
Setelah inkubasi, jumlah koloni masing-masing cawan diamati. Untuk memenuhi
persyaratan statistik, cawan yang dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang
mengandung antara 30 sampai 300 koloni. Karena jumlah mikroorganimse dalam
sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya
satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut
maka harus dilakukan sederatan pengenceran dan pencawanan.
1.2 Rumusan
Masalah
Berapa total koloni
yang terbentuk dalam media padat NA dan SDA? Koloni apa saja yang berbeda yang
apabila dilihat dari mikroskop?
1.3 Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pencemaran yang
terdapat dalam sampel dengan menggunakan metode ALT (Angka Lempeng Total).
1.3.2 Unuk menentukan standart kualitas
makanan dan minuman yang tealah diperiksa melalui angka koloni dengan
menggunakan metode angka lempeng total.
1.4 Manfaat
1.4.1 Mengetahui standart kualitas
makanan dan minuman yang telah diuji menggunakan angka lempeng total berdasarkan
koloni bakteri yang telah dihitung.
1.4.2 mengetahui pencemaran bakteri yang
ada dalam sampel yang telah dikembangbiakan berdasarkan media padat untuk
bakteri di NA dan untuk jamur di SDA.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Angka
Lempeng Total
Angka lempeng total
adalah angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil dalam tiap-tiap 1 ml atau
1 gram sampel makanan yang diperiksa. Prinsip dari ALT adalah menghitung
pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah sampel makanan ditanam pada
lempeng media yang sesuai dengan cara tuang kemudian dieramkan selama 24-48 jam
pada suhu 35-37°C (Joko Wibowo Ristanto, 1989).Uji angka lempeng total
merupakan metode yang umum digunakan untuk menghitung adanya bakteri yang terhadap
dalam sediaan yang diperiksa.
Metode penentuan
angka lempeng total ini digunakan untuk menentukan jumlah total
mikroorganisma aerob dan anaerob (psikrofilik,
mesofilik dan termofilik) .
a. Psikofilik adalah kelompok mikroorganisme
yang hidup pada suhu kurang dari 20°C,
b. Mesofilik adalah kelompok mikroorganisme yang
hidup pada suhu 20 °C-40°C
c. Termofilik adalah kelompok mikroorganisme
yang hidup pada suhu lebih besar dari 40°C.
Angka lempeng total
aerob adalah jumlah mikroorganisma hidup yang membutuhkan oksigen yang terdapat
dalam suatu produk yang diuji. Pertumbuhan mikroorganisme aerob dan anaerob (psikrofilik,
mesofilik dan termofilik) setelah contoh diinkubasikan dalam media agar pada
suhu 35°C ± 1°C selama 24 jam 48 jam ± 1 jam mikroorganisme ditumbuhkan pada
suatu media agar, maka mikroorganisma tersebut akan tumbuh dan berkembang biak
dengan membentuk koloni yang dapat langsung dihitung.
Populasi bakteri
dihitung dengan cara mengencerkan sampel atau bahan uji, dilanjutkan dengan
melakukan inokulasi semua hasil pengenceran didalam media pelat. Jumlah koloni
yang dapat tumbuh pada pelat dihitung secara manual dengan bantuan “Colony
Counter”. Jumlah koloni yang memenuhi ketentuan perhitungan adalah 25-30 sampai
250-300 koloni pada media pelat.
Artinya: Bila
percobaan menunjukan data terdapat populasi 20 koloni pada pelat hasil
pengenceran ke-4 dan 200 koloni pada pengenceran ke-3, maka kesimpulannya
adalah bahan uji mengandung = 200 x 10³ = 200.000 koloni bakter / mL atau
perhitungan berdasarkan pada koloni yang tumbuh pada hasil pengenceran ke-3.
Metode ini dapat
dianggap yang paling sensitive kerena sel hidup yang dapat terhitung, beberapa
jenis mikroorganisme dapat dihitung sekaligus dan dapat digunakan utuk isolasi
dan identifikasi karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel
induk.
Uji angka lempeng
total dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu teknik cawan tuang (pour
plate) dan teknik sebaran (spread plate). Pada prinsipnya dilakukan
pengenceran terhadap sediaan yang diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada
media lempeng agar. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada lempeng agar
dihitung setelah inkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai. Perhitungan
dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni bakteri antara 30-300. Angka
lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni bakteri hasil perhitungan
dikalikan faktor pengenceran.
Jika sel jasad renik
yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut
akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dapat
dihitung dengan menggunakan mata tanpa mikroskop. Metoda hitungan cawan
merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jaasad renik
karena beberapa hal yaitu :
1. Hanya sel yang masih hidup yang dapat
dihitung.
2. Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung
satu kali.
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identitas
jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari jasad renik yang
menetap menampakkan pertumbuhan yang spesifik.
2.2 Perhitungan Angka Kuman
Menghitung atau menentukan
banyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan
untuk mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan
mengetahui jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari
bahan tersebut. Bahan yang dapat dikatakan baik jika jumlah mikroba yang
terkandung dalam bahan tersebut masih di bawah jumlah standar yang ditentukan
oleh suatu lambaga. Kandungan mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan
tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan oleh tingkat kelayakan untuk
dikonsumsi.
Adanya jumlah angka lempeng total
yang ditemukan pada suatu sampel dapat dijadikan acuan bahwa sampel tersebut
masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Adapun untuk batas persyaratan perhitungan
dari angka lempeng total adalah :
1. Mikroba yang dapat dihitung 30-300 koloni
2. <30 koloni, dianggap cemaran
3. >300 koloni, spreader atau tak terhingga sehingga
tak dapat dihitung
4. Jumlah bakteri adalah jumlah koloni x factor pengenceran
5. Perbandingan jumlah bakteri dari pengenceran
berturut-turut antara pengenceran yang akhir dengan pengenceran yang sebelumnya
6. Jika sama atau kurang dari 2 maka hasilnya
dirata-rata
7. Jika lebih dari 2 digunakan pengenceran sebelumnya.
2.3 Cara Menghitung
Angka Lempeng Total
Dari semua cawan petri yang telah
diinkubasi, dipilih cawan petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah
koloni antara 30-300. Apabila terdapat lebih dari satu cawan petri yang
menunjukkan pertumbuhan koloni antara 30-300 maka digunakan 2 pengenceran.
Jumlah koloni rata-rata dari kedua cawan tersebut dihitung lalu dikalikan
dengan factor pengencerannya.
Hasil menyatakan sebagai angka
lempeng total dlam tiap gram contoh. Untuk beberapa kemungkinan lain yang
berbeda dari pertnyataan diatas, maka petunjuk sebagai berikut :
1. Bila satu diantara petri dari pengenceran yang sama
menunjukkan jumlah 30-300 koloni, dihitung rata-rata kedua cawan dikalikan
factor pengenceran.
2. Bila pada cawan petri pada kedua tingkat pengenceran
yang berurutan menunjukkan jumlah antara 30-300 koloni, maka dihitung jumlah
koloni dan dikalikan factor pengenceran kemudian diambil rata-rata. Jika
pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni lebih besar dari 2kali jumlah
koloni pada pengenceran dibawahnya, maka dipilih tingkat pengenceran terendah
(missal pada pengenceran 10-2 diperoleh 140 koloni dan pada
pengenceran 10-3 diperoleh 32 koloni, maka yang dipilih jumlah
koloni pada tingkat pengenceran 10-2 yaitu 140 koloni)
3. Bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang
menunjukkan jumlah antara 30-300 koloni, maka dicatat angka sebenarnya dari
tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai angka lempeng total
perkiraan.
4. Bila tidak ada pertumbuhan pada semua cawan dan
bukan disebabkan karena factor inhibitor, maka angka lempeng total dilaporkan
sebagai kurang dari satu dikalikan factor pengenceran terendah
5. Bila jumlah koloni percawan lebih dari 300, maka
cawan dengan tingkat pengenceran tertinggi dibagi dalam beberapa sector (2,4,
dan 8) jumlah koloni dikalikan dengan factor pengencerannya. Hasil dilaporkan
sebagai angka lempeng total perkiraan.
6. Bila jumlah koloni lebih besar dari 200
dari bagian cawan, maka jumlah koloni adalah 200x8xfaktor
pengenceran. Angka lempeng total perkiraan dihitung sebagai lebih besar dari
jumlah koloni diperoleh. (Srikandi Fardiaz, 1989)
Ø Kelebihan dari metode hitungan cawan:
1. Masih hidup yang hidup yang dihitung
2. Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung
sekaligus
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad
renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal sari suatu jasad renik yang
memiliki penamapakan pertumbuhan spesifik.
Ø Kekurangannya, yaitu:
1. Hasil hitungannya tidak menunjukkan jumlah sel yang
sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan
mungkin membentuk satu koloni.
2. Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin
menghasilkan nilai yang berbeda.
3. Jasad renik yang ditumbuhkan harus dapat
tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak dan jelas,
tidak menyebar.
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu
pelaksanaan praktikum ini adalah tanggal 5 Desember 2019 pada pukul 08.00
sampai dengan 11.20. Tempat pelaksanaan praktikum ini adalah di Laboratorium
Mikrobiologi Akademi Farmasi Surabaya.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan
yang dibutuhkan adalah NA (Nutrient Agar, NB (Nutrient Broth), dan SDA (Saboraud Dextrose Agar), Pentol, Tahu, Sinom, dan
Tebu.
Alat yang dibutuhkan adalah mikroskop, pipet ukur, alat-alat yang steril antara
lain tabung reaksi, cawan petri, batang spreader, beaker glass dan beberapa
alat steril lainnya.
3.3 Metode Pelaksanaan
3.3.1 Menyiapkan alat yang dibutuhkan
3.3.2 Menyiapkan sampel yang telah dilarutkan
3.3.3 Melakukan pengenceran terhadap sampel
3.3.4 Pembuatan media NA untuk
pengembangbiakan bakteri berdasarkan pengenceran
yang sesuai
3.3.5 Penanaman bakteri dengan
metode streak lalu diinkubasi 1X24 jam
3.3.6 Lalu diamati dengan menghitung
koloni yang terbentuk dan diamati secara
mikroskopis dan makroskopis
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Prosedur kerja Angka Lempeng Total
Sampel yang digunkan untuk kelompok kami
adalah pentol. Setiap prosedur yang dikerjakan pada praktikum mikrobiologi alat
ataupun media yang akan digunakan wajib terlebih dahulu telah steril barulah
dapat digunakan untuk praktikum.
4.1.1
Tahap Pelarutan Sampel
1.
Pentol yang sudah kita beli di Jalan Pagesangan kita haluskan terlebih dahulu
hingga bener-bener halus tanpa di beri tambahan air pada saat menghaluskannya.
Menghaluskannya menggunakan bantuan alat mortar dan stamfer.
2.
Kemudian di larutkan dalam 50 ml Nacl lalu kita aduk hingga bener-bener
tercampur rata kami menggunakan bantuan alat vortex untuk meratakan supaya
benar-benar homogen.
4.1.2 Tahap pembuatan
Media
Media yang dibutuhkan
adalah media cair NB dan media padat NA
Pembuatan media NB :
Diperlukan media NB sebanyak 5 tabung reaksi karena kita akan
mengencerkan sampel yang sudah dilarutkan sampai 10 pangkat 5. Cara pembuatannya
timbang NB sebanyak 0,04 gram dan dilarutkan dengan aquadest sebanyak 50 ml di
Erlenmeyer kemudian aduk ad homogen dengan bantuan batang pengaduk dan
sterilkan ke dalam autoclave dengan menutup mulut Erlenmeyer menggunakan sumbat
dengan menggunakan suhu 121 derajat Celcius dengan tekanan 1 atm. Tuangkan ke
tabung reaksi sebanyak 9 ml/ tabug reaksi dan ditutup menggunakan sumbat.
Pembuatan media NA :
Di perlukan sebanyak 5 cawan petri berisi NA yang sudah padat
dan steril tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dibutuhkan 5 cawan petri
untuk menanam atau mengisolasi bakteri yang ada pada sampel sesuai dengan
pengenceran yang ada di NB jadi cawan petri 10 pangkat 1 akan di streak dari NB
10 pangkat 1 juga dan seperti itu sampai 10 pangkat 5. Cara pembuatannya adalah
timbang NA sebanyak 4 gram dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 200 ml
kemudian di aduk di Erlenmeyer hingga homogen menggunakan bantuan batang
pengaduk lalu dipanaskan hingga berubah menjadi jernih warnanya kemudian di
sterilkan di autoclave denan suhu 121 derajat celcius dan dengan tekanan 1 atm.
Tuangkan di cawan petri sebanyak 15 ml/ cawan petri lalu tutup dengan
menggunakan plastic wrap.
4.1.3 Pengenceran
Tahap pengenceran ini adalah mengembangbiakan mikroba melalui
media cair hingga di ratakan sampai 10 pangkat 5 oleh karena itu membutuhkan
tabung reaksi ebanyak 5 tabung dan cawan petri sebanyak 5 cawan petri .
Caranya :
1.
Homogenkan sampel dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan
vortex
2.
Pipet larutan sampel sebanyak 1 ml dengan meggunakan pipet ukur
kemudian pindahkan kedalam tabung rekasi yang telah dinamai 10 pangkat 1, jadi
sebelum di pipet ada baiknya jika setiap tabung reaksi kita beri nama hingga 10
pangkat 5.
3.
Setelah di pipet kemudian dihomogenkan bisa dengan cara di pipet
seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 1 kemudian dikeluarkan
kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan menggunakan alat bantu
yang dinamakan vortex.
4.
Setelah itu dari 10 pangkat 1 setelah homogen di pipet dari 10 pangkat
1 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 2 kemudian dihomogenkan bisa
dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10 pangkat 2
kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau dengan
menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
5.
Setelah itu dari 10 pangkat 2 setelah homogen di pipet dari 10
pangkat 2 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 3 kemudian dihomogenkan
bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10
pangkat 3 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau
dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
6.
Setelah itu dari 10 pangkat 3 setelah homogen di pipet dari 10
pangkat 3 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 4 kemudian dihomogenkan
bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10
pangkat 4 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau
dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
7.
Setelah itu dari 10 pangkat 4 setelah homogen di pipet dari 10
pangkat 4 sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke 10 pangkat 5 kemudian dihomogenkan
bisa dengan cara di pipet seluruh isi yang ada di dalam tabung reaksi 10
pangkat 5 kemudian dikeluarkan kembali hingga di repilkasi sampai 3 kali atau
dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan vortex.
8.
Setelah selesai sampel dapat di buang dan dibersihkan kemudian
alat yang setelah selesai digunakan di sterilkan kembali dan untuk pengenceran
yang telah selesai dilakukan maka di inkbasi selama 1 hari atau 24 jam di alat
incubator.
4.1.4 Isolasi Bakteri
Setelah selesai diencerkan dan di inkubasi selama 1 hari atau 24
jam dan media padat NA juga sudah disiapkan sebanyak 5 cawan petri yang tidak
terkontaminasi dan telah selesai diberi label 10 pangkat 1 – 5 kemudian saatnya
di streak atau di isolasi untuk mengidentifikasi dan menghitung berapa koloni
yang muncul dan bakteri gram apa yang muncul. Teknik streak/ goresan yang
digunakan adalah teknik streak/ goresan sinambung.
Langkah-langkahnya :
1.
Siapkan NB yang telah selesai di inkubasi
2.
Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang
sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 1 diletakkan pada cawan petri
yang telah di beri nama 10 pangkat 1 kemudian di ambil 1 totol dengan
menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah
tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga
dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 1
juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
3.
Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang
sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 2 diletakkan pada cawan petri
yang telah di beri nama 10 pangkat 2 kemudian di ambil 1 totol dengan
menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah
tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga
dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 2
juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan
alcohol.
4.
Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang
sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 3 diletakkan pada cawan petri
yang telah di beri nama 10 pangkat 3 kemudian di ambil 1 totol dengan
menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah
tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga
dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 3
juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan
alcohol.
5.
Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang
sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 4 diletakkan pada cawan petri
yang telah di beri nama 10 pangkat 4 kemudian di ambil 1 totol dengan
menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah
tetapi jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga
dingin kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 4
juga dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan
alcohol.
6.
Kemudian setiap label atau nama harus di letakkan di label yang
sama juga jadi NB pada tabung reaksi 10 pangkat 5 diletakkan pada cawan petri
yang telah di beri nama 10 pangkat 5 kemudian di ambil 1 totol dengan
menggunakan kawat ose yang telah di panaskan di api hingga berwarna merah tetapi
jangan langsung di celupkan ke NB nanti bakteri akan mati tunggu hingga dingin
kemudian di gores pada cawan petri yang telah di beri label 10 pangkat 5 juga
dengan menggunakan kerja aseptis dengan bantuan kawat ose, bunsen, dan alcohol.
7.
Kemudian setelah selesai di wrap cawan petri dan di inkubasi
selama 1 hari atau 24 jam barulah keesokaan harinya dapat segera diamati.
4.1.5 Pengamatan
Tahap ini adalah tahap dimana telah selesai dari beberapa tahap
diatas diaman merupakan tahapan akhir dalam uji ALT (Angka Lempeng Total).
1.
Pengamatan jumlah bakteri yang muncul di permukaan media padat
NA
Berdasarkan jurnal
syarat jumlah coloni yang masih ambang batas dan aman dikonsumsi adalah
terdapat kurang dari 25 – 250 jumlah koloni jika melebihi diatasnya maka
makanan atau minuman tersebut tidak layak untuk dikonsusmsi ini berdasarkan
jurnal (Inur Tivani.2018. Uji Angka Lempeng Total pada Jamu Gendong Temu Ireng
DiDesa Tanjung kabupaten Brebes. Volume 7 Nomor 1 Januari 2018). Dan di
jurnal tersebut mengatakan bahwa semakin tinggi angka pengenceran maka bakteri
yang dihasilkan semakin sedikit itu juga menjadi salah satu standart mutu
makanan dan minuman.
Dalam pratikum ini
kelompok kami tidak dapat menghitug koloni yng terbentuk karena koloni yang
terbentuk dalam setiap cawan petri kumpul menjadi satu sehingga terbentuk
koloni yang sangat besar jadi kami tidak dapat menghitung berapa koloni yang
terbentuk. Untuk yang bias diamati juga hanya terdapat 3 cawan petri saja
karena 2 cawan petri sisanya kontaminasi.
2.
Pengamatan bakteri
Dalam pengamatan
bakteri kami tiak dapat menentukan itu termasuk dalam bakteri apa yang bias
kami tentukan hanyalah gram dari bakteri dan diamati secara mikroskopis serta
makroskopis.
Berikut hasilnya :
Cawan petri 10 pangkat 1
Secara
mikroskopis termasuk ke dalam gram positif karena berwarna ungu dan berbentuk
bacil atau batang.
Secara
makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil
kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang
mempunyai margin entare elevasi conves dan bentuk circular.
Cawan petri 10 pangkat
2
Secara
mikroskopis termasuk ke dalam gram negatif karena berwarna merah dan berbentuk
bacil atau batang.
Secara
makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil
kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang
mempunyai margin undulate elevasi conves dan bentuk irregular
Cawan petri 10 pangkat
3
Secara
mikroskopis termasuk ke dalam gram positif karena berwarna ungu dan berbentuk
bulat atau coccus.
Secara
makroskopis diambil dari koloni yang berbeda diantara 3 cawan petri jadi hasil
kami setiap cawan petri ada satu koloni yang berbeda ini merupakan koloni yang
mempunyai margin serrase elevasi conves dan bentuk circular.
Dalam pengamatan kami tidak
mengamati kapang/ jamur yang menggunakan media SDA karena waktu yang tidak
cukup karena pada saat pembuatan media NA terjadi kontaminasi sehingga kami
harus mengulang dan untuk media SDA tidak dapat diamati.
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan yang baik adalah
mengethaui berapa total koloni yang muncul sehingga dapat disimpulkan apakah
pentol di daerah Jalan Pagesangan baik atau layak untuk dikonsumsi atau tidak
berhubung kelompok kami tidak dapat dihitung dikarenakan koloni yang terbentuk
sangat besar tidak memisah sehingga tidak dapat dihitung dan hanya bias
diamati. Ketika diamati ternyata terdapat bakteri gram positif dan negative di
dalam makanan pentol yang di beli di daerah Jalan Pagesangan tidak dapat
disebutkan termasuk dalam bakteri apa namanya karena memerlukan alat khusus untuk
mendeteksinya.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Tivani Inur. 2018. Uji
Angka Lempeng Total pada Jamu Gendong Temu Ireng di Desa Tanjung
Kabupaten Brebes. Volume 7 Nomor 1
Januari 2018. Di Kutip 12 Januari 2020 dari Uji
Angka Lempeng Total
pada Jamu Gendong Temu Ireng di Desa Tanjung Kabupaten Brebes. file:///C:/Users/HPP/Downloads/751-2403-1-PB.pdf
I. Faridz Faisal. 2016.
Laporan Angka Lempeng Total Metode Cawan Tuang (TPC). Dikutip 12
Januari 2020 dari Laporan Angka Lempeng Total Metode Cawan
Tuang (TPC). http://faisalgntng.blogspot.com/2016/03/laporan-angka-lempeng-total.html
Pendidikan. 2014. Laporan ALT Bakteri.
Dikutip 12 Januari 2020 dari Laporan ALT Bakter.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar