Jumat, 17 Januari 2020


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MICROBIOLOGI
UJI DAYA HAMBAT BAKTERI BACILLUS CEREUS DENGAN EKTRAK DAUN PEPAYA MENGGUNAKAN METODE CAKRAM



OLEH
KELOMPOK 2

1.      Kholifah Wahyu Fitriani         (1351810073)
2.      Anry Arista Pancawati            (1351810087)
3.      Karina Widyastuti                  (1351810129)
4.      Leady Ayu Susanti Permadi   (1351810153)
5.      Widya Risky Saraswati           (1351810135)
6.      Olyvia Diah Anggraeni           (1351810103)
7.      Febrian Rizki Puji Hartono     (1351810105)



AKADEMI FARMASI SURABAYA
                                                                             

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme. Mikroorganisme adalah suatu mikroba yang berukuran sangat kecil sehingga apabila melihatnya memerlukan alat bantu agar dapat melihat mikroorganisme tersebut karena apabila hanya dilihat dengan mata telanjang maka tidak akan terlihat sehingga membutuhkan alat bantu untuk melihat mikroba yang berukuran sangat kecil tersebut. Alat yang biasa digunakan adalah mikroskop.
Mikroorganisme terdiri dari bakteri, virus, golongan fungi, dan protozoa. Dalam praktikum ini akan memberikan pengetahuan bahwa di lingkungan sekitar banyak sekali bahan alam yang dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan pembunuh bakteri (bakteriosid). Praktikum kali ini mencoba menguji potensial ekstrak daun papaya terhadap bakteri bacillus cereous dengan konsentrasi ekstrak 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%.
Upaya pemberantasan dengan menggunakan bahan kimia dan obat-obatan yang selama ini dilakukan belum memperoleh hasil yang memadai dan sebetulnya tidak dianjurkan. Akumulasi residu antibiotik dalam organisme budidaya berpotensi merusak kesehatan manusia dan hewan yang mengkonsumsinya, limbah yang mempengaruhi kondisi kualitas air (Bondad-Reantaso et al., 2001; Adeyemo, 2013) dan lingkungan sekitarnya (Muniruzzaman dan Chowdhury, 2004; Naylor dan Burke, 2005; Abutbul dkk., 2005).
Strategi baru dengan penggunaan bahan alami yang dapat menjadi imunomodulator baru untuk pengobatan terapi non-antibiotik sangat dibutuhkan untuk menghidari efek samping dari penggunaan antibiotik. Penghambatannya yang spesifik terhadap bakteri telah banyak dilaporkan oleh para peneliti. Namun masih sedikit yang melaporkan tentang aktivitasnya terhadap bakteri patogen pada ikan. Penelitian tentang penggunaan ekstrak tanaman telah dilakukan oleh banyak peneliti yang membuktikan bahwa ekstrak tanaman dapat bersifat antibakteri, anti jamur, dan dapat juga digunakan sebagai imunostimulan yang tidak menimbulkan resistensi (Saptiani dan Hartini, 2008; Galina et al., 2009; Sivaraman et al., 2010; Velmurugan dan Citarasu, 2009; Saptiani et al., 2012).

Hasil penelitian Baskaran dkk. (2012), diketahui bahwa ekstrak etanol daun pepaya dapat mencegah infeksi baik pada jamur, bakteri Gram positif dan negatif. Selain itu, ekstrak daun pepaya telah terbukti mengandung bahan analgesik dan antiinflamasi. Daun pepaya sudah lama dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk makanan dan obat. Ekstrak daun pepaya bersifat anti bakteri dan anti jamur terhadap berbagai bakteri pathogen pada manusia.

1.2  Rumusan Masalah
Ekstrak daun pepaya termasuk ke dalam bakteriostatik atau bakteriosid? Lalu termasuk ke dalam kategori kuat, sedang, atau lemah?

1.3  Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui ektrak daun papaya dapat dijadikan sebagai penghambat atau pembunuh bakteri bacillus cereous.
1.3.2 Untuk menentukan apakah sifat ekstrak daun papaya termasuk dalam kategori kuat, sedang, lemah dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri bacillus cereous.

1.4  Manfaat
1.4.1 Mengetahui kategori ektrak daun pepeya dalam membunuh atau menghambat bakteri apakah secara sedang, kuat, ataupun lemah.
1.4.2 Dapat mengetahui bahwa daun papaya mempunyai sifat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri bacillus cereous










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Daun Pepaya



Nama ilmiahCarica papaya
KingdomPlantae
Tingkatan taksonSpesies
Daun pepaya merupakan salah satu jenis sayuran yang diolah pada saat masih muda menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi. Disamping dapat diolah menjadi makanan yang lezat, daun pepaya dapat pula dijadikan obat untuk beberapa jenis penyakit. Helaian daun pepaya berbentuk menyerupai tangan manusia. Apabila daun pepaya dilipat tepat di tengah, maka akan tampak bahwa daun pepaya berbentuk simetris.
 Daun Pepaya yang bercita rasa pahit ini dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, diantaranya:
·         Batu Ginjal, caranya beberapa lembar daun pepaya dicuci bersih lalu direbus, kemudian air rebusan tersebut diminum dan diakhiri dengan meminum air kelapa muda (namun, bagi yang mengidap hipertensi tidak diperkenankan menggunakan metode ini).
·         Malagizi (gejala kekurangan gizi pada balita), caranya daun pepaya ditumbuk bersama daun dadap serep, dan kapur sirih kemudian dipergunakan sebagai bedak dan dioleskan pada perut si penderita.
·         Sakit perut pada waktu haid, caranya 1 lembar daun pepaya ditumbuk bersama dengan buah asam dan garam lalu ditambahkan air masak, campuran tersebut kemudian diperas, disaring dan diminum pada saat haid.
·         Disentri, caranya 2 lembar daun pepaya direbus dalam 1 liter air bersama dengan 1 sendok teh bubuk kopi, lalu disaring dan diminum satu cangkir per hari.
·         Diare, caranya daun pepaya direbus bersama dengan minyak kelapa, lalu daun pepaya yang layu tersebut ditempelkan pada perut penderita.
·         Membasmi cacing perut, caranya daun pepaya direbus dalam 2 gelas air bersama dengan adas pulowaras sampai mendidih, lalu air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap malam sebelum tidur.
·         Mengatasi keputihan, caranya 1 daun pepaya yang telah dicuci bersih direbus dalam 1,5 liter air bersama 50 gram akar alang-alang dan pulasari, kemudian air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap hari satu kali.
·         Mengatasi jerawat, caranya 2-3 helai daun pepaya yang sudah tua dijemur kemudian dihaluskan dan ditambahkan air kemudian sari daun pepaya tersebut dioleskan pada bagian yang berjerawat.
·         Mengatasi noda hitam di wajah, caranya daun pepaya dihaluskan dengan cara ditumbuk ataupun diblender dan ditambah air, kemudian air sari daun pepaya tersebut dicampurkan dengan masker dan dioleskan pada wajah, setelah 15 menit wajah dibasuh dengan air hangat sampai bersih.
Daun pepaya mengandung senyawa- senyawa kimia yang bersifat antiseptik, antiinflamasi, antifungal, dan antibakteri. Senyawa antibakteri yang terdapat dalam daun pepaya diantaranya tanin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan saponin (Duke, 2009). Selain itu daun pepaya mengandung zat aktif seperti
alkaloid carpaine, asam-asam organik seperti lauric acid, caffeic acid, gentisic acid, dan asorbic acid, serta terdapat juga β- sitosterol, flavanoid, saponin, tannin, dan polifenol (Duke, 2009). Secara tradisional daun pepaya dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengatasi penyakit diare dan mengobati penyakit kulit seperti jerawat. Penyakit diare dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya bakteri Escherichia coli, sedangkan penyakit kulit seperti jerawat dapat disebabkan oleh bakteri Stapylococcus aureus. Bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus merupakan bakteri pathogen yang sering menginfeksi manusia.
2.2 Definisi Bacillus Cereus


Bacillus cereus merupakan bakteri gram positifberbentuk batangaerobik, anaerob fakultatif, motil, serta beta hemolitik. Bakteri ini biasa ditemukan di tanah dan makanan. Beberapa galur bakteri ini berbahaya bagi manusia dan menyebabkan penyakit bawaan makanan, sedangkan jenis lainnya dapat bermanfaat sebagai probiotik untuk hewan. Bakteri ini menyebabkan "sindrom nasi goreng", karena bakteri ini mendiami nasi goreng yang telah ditaruh pada suhu kamar selama berjam-jam. Bakteri B. cereus merupakan fakultatif anaerob, sama seperti anggota lain dari genus Bacillus, ia dapat menghasilkan pelindung endospora. Faktor virulensinya termasuk cereolysin dan fosfolipase C.
Kelompok Bacillus cereus terdiri dari tujuh spesies yang terkait erat: B. cereus sensu stricto (disini disebut sebagai B. cereus), B. anthracisB. thuringiensisB. mycoidesB. pseudomycoidesB. weihenstephanensis, dan B. cytotoxicus.
Para peneliti di Australian National University (ANU) pun menemukan cara kerja Bacillus cereus dan cara memeranginya. Bakteri ini biasanya berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh, dan mampu mempertahankan dirinya sendiri.

2.3 Uji Potensial Daya Hambat Metode Cakram

 


Uji potensial daya hambat ini adalah untuk menyimpulkan apakah bahan alam ataupun bahan yang digunakan sebagai antibakteri dapat benar dan bisa digunakan untuk menghambat atau membunuh bakteri. Menggunakan metode cakram yang telah di tetesi dengan ekstrak daun papaya dengan konsentrasi yang telah ditentukan dan di letakkan di atas permukaan media padat NA yang telah ada bakteri secara merata. Metode cakram uji potensial ini lebih mudah digunakan karena apabila terbentuk zona bening di sekitar cakram dan berbentuk lingkaran maka ektrak daun papaya dapat dikatakan sebagai antibakteri tetapi apabila zona beningnya kecil dapat dikatakan sebagai bakteriostatik atau menghambat pertumbuhan bakteri jika zona beningnya besar dapat dikatakan bakteriosid yang dapat membunuh bakteri. Untuk mengetahui kategori lemah, kuat atau sedang dapat diukur diameter yang ada atau yang terbentuk pada zona bening yang muncul sekitar cakram.

 



BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum ini adalah tanggal 18 Desember 2019 pada pukul 08.00 sampai dengan 11.20. Tempat pelaksanaan praktikum ini adalah di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Surabaya.

3.2 Bahan dan Alat
            Bahan yang dibutuhkan adalah NA (Nutrient Agar), Bacillus cereus, Ekstrak daun papaya yang sesuai konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%, Aqua steril atau NaCl
            Alat yang dibutuhkan adalah cawan petri, Erlenmeyer, batang pengaduk, cakram, pinset, mikropipet, bunsen, tabung reaksi. Semua alat yang digunakan wajib steril dan untuk kerja praktikum wajib menggunakan kerja aseptis dan praktikan wajib menggunakan jas lab, masker, daan handscoon.

3.3 Metode Pelaksanaan
            3.3.1 Menyiapkan alat yang dibutuhkan
            3.3.2 Pembuatan media biakan NA
            3.3.3 Menyiapkan ekstrak daun papaya yang telah sesuai konsentrasi
            3.3.4 Menyiapkan bakteri bacillus cereus yang akan di spread pada media biakan NA
3.3.5 Penanaman bakteri dengan metode spread lalu diinkubasi 1X24 jam
            3.3.6 Penanaman cakram untuk setiap konsentrasi ekstrak daun pepaya
            3.3.7 Lalu diamati dengan melihat zona bening yang terbentuk di sekitar cakram dan diukur
diameter zona bening



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Prosedur Kerja
            4.1.1 Pembuatan media NA
Pembuatan media harus selalu menggunakan alat yang telah diterilkan sehingga ketika media jadi dapat meminimalisisr terjadinya kontaminasi.
Cara pembuatannya adalah timbang NA sebanyak 2 gram dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 100 ml kemudian di aduk di Erlenmeyer hingga homogen menggunakan bantuan batang pengaduk lalu dipanaskan hingga berubah menjadi jernih warnanya kemudian di sterilkan di autoclave denan suhu 121 derajat celcius dan dengan tekanan 1 atm. Tuangkan di cawan petri sebanyak 15 ml/ cawan petri lalu tutup dengan menggunakan plastic wrap.
4.1.2 Isolasi bakteri bacillus cereus
Jika sudah ada NA yang padatdan tidak kontamnasi maka segera di isolasi bakteri bacillus cereus dengan menggunakan metode spreader dimana akan dibantu dengan menggunakan batang spreader suapaya bakteri dapat menyebar rata pada permukaan NA. Caranya adalah dengan memipet bakteri bacillus cereus sebanyak 100 microliter/ 0,1 ml kemudian di tuang pada NA padat yang tidak terkontaminasi lalu di sebar dengn menggunakan batang spreader hingga menyebar rata kemudian tutup cawan petri dan flambir dekat api, untuk teknik pengerjaannya tetap menggunakan kerja aseptis. Kemudian di inkubasi selama 1 hari atau 24 jam degan bantuan alat incubator.

4.1.3  Penanaman cakram
Untuk bakteri yang menyebar rata seperti pada hasil kelompok kami dibawah ini :
Jadi kelompok kami yang berhasil menyebar rata hanya terdapat 3 cawan petri saja untuk 2 cawan petri bakterinya tersebar rata tetapi terjadi kontaminasi sehingga tidak dapat dilakukan teknik cakram. Ini merupakan hasil spread kelompok kami yang siap untuk dilakukan penanaman cakram:
 

Untuk yang terjadi kontaminasi ada 2 cawan petri sehingga tidak dapat dilakukan penanaman cakram :
 


Cara melakukan penanaman cakram sebagai berikut :
1.      Menyiapkan semua alat yang dibutuhkan untuk penanaman cakaram meliputi mikropipet untuk memipet ekstrak daun papaya yang telah di siapkan di laboratorium dengan konsentrasi yang berbeda mulai dari 2 %, 4%, 6%, 8%, 10%, yellow tip yang steril untuk mengambil ekstrak daun papaya dengan unuran 20 mikroliter, pincet untuk membantu mengambil cakram dan meletakkan cakram di permukaan NA yang telah terdapat bacillus cereus yang rata, cakram itu sendiri, bunsen untuk alat kerja aseptis dan beberapa alat kerja aseptis lainnya seperti alcohol 70 %.
2.      Buka cawan petri yang terdapat bacillus cereusnya yang telah rata kemudian di flambir mulut cawam petri
3.      Lalu ambil pincet dan ambil 1 cakram tetesi dengan ekstrak daun pepeya dengan konsentrasi yang urut mulai dari 2 %, 4%, 6%, 8%, 10%, dan setiap yellow tip harus ganti untuk beda konsentrasi
4.      Taruh/ tanam cakrram di cawan petri yag sudah di namai di cawan petri dengan membagi 5 kotak untuk konsentrasi yang berbeda
5.      Tutup cawan petri lalu biarkan agar tidak berkeringat dan menyerap ekstraknya kemudian di plastic wrap dan di inkubasi selama 1 hari atau 24 jam dan langkah diatas juga dilakukan sampai ketiga cawan petri telah tertanam cakram dengan konsentrasi daun papaya yang berbeda.
 Berikut ada beberapa rangkaian kami melakukan praktikum uji daya hambat atau uji potensial pada bekteri bacillus cereus menggunakan ekstrak daun papaya :
Penyiapan Alat                                   
  
Penanaman cakram


Inkubasi selama 1 hari atau 24 jam
   



4.1.4 Pengamatan
Tahap ini adalah tahap pengamatan dimana teori sesungguhnya akan terbentuk zona bening pada setiap konsentrasi dari ekstrak daun papaya tetapi pada kelompok kami hanya ada 2 cawan petri saja yang dapat diamati dan itu tidak semua konsentrasi terbentuk hanya  beberapa konsentrasi saja yang terbentuk dari 2 cawan petri tersebut dan untuk cawan petri satunya lagi tidak terbentuk zona bening karena terjadi kontaminasi. Berikut gambar hasil dan data pengamatan :


Data hasil pengamatan:
Cawan Petri 1
Pengukuran
Zona Hambat (%)
Kontrol
2%
4%
6%
8%
10%
1
1,78
0,06
1,01
1,01
-
-
2
1,78
0,06
1,01
1,01
-
-
3
1,77
0,05
1,01
1.00
-
-
4
1,76
0,06
1,00
1,01
-
-
Rata-rata
1,77
0,06
1,00
1,00
-
-
Kategori
lemah
lemah
lemah
lemah
-
-

Cawan Petri 2
Pengukuran
Zona Hambat (%)
Kontrol
2%
4%
6%
8%
10%
1
1.68
0,05
1,00
1,01
-
-
2
1,67
0,05
1,01
1,01
-
-
3
1,68
0,04
1,00
1,01
-
-
4
1,68
0,05
1,00
1,01
-
-
Rata-rata
1,68
0,05
1,00
1,00
-
-
Kategori
lemah
lemah
lemah
lemah
-
-

Kategori berdasarkan jurnal : Susi Novaryatiin, Guntur Satrio Pratomo, Cindia Yunari. 2018. Uji Daya Hambat Ekstrak Ethanol Daun Jerangau Hijau Terhadap Staphylococcus Aureus. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.

Berikut hasil dan pembahasan :
Pada konsentrasi 8% dan 10% yang seharusnya menghsilkan zona bening yang cukup besar disbanding konsentrasi yang lain tetapi justru malah pada konsentrasi ini tidak terbentuk zona bening dan hasil untuk konsentrasi lain juga lemah hal ini terjadi karena yang seharusnya di inkubasi selama 1 hari atau 24 jam kelompok kami meng inkubasi selama 2 hari sehingga bakteri terkumpul kembali hal ini terjadi karena sifat dari ekstrak daun papaya bakteriostatik atau hanya sebagai penghambat bukan pembunuh bakteri sehingga dia dapat menghambat 1 hari saja untuk selebihnya akan berkumpul kembali oleh karena itu tidak terbentuk zona bening yang baik dan juga terdapat kontaminasi pada beberapa konsentrasi. Bahkan untuk cawan petri yang ketiga pun juga sama bakteri ngumpul kembali dan terjadi kontaminasi.



BAB V

KESIMPULAN

 

            Kesimpulannya adalah bahwa ekstrak daun papaya dapat dikatakan sebagai menghambat bakteri (bakteriostatik) karena pada uji daya hambat mereka dapat menghambat bakteri bacillus cereus walaupun dalam kategori lemah. Kalaupun zona bening yang terbentuk kecil itu pun karena kesalahan pada saat inkubasi.



BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia. 2017. Daun Pepaya. Di Kutip tanggal 17 Januari 2020 dengan judul Daun Pepaya.

Wikipedia. 2019. Bacillus Cereus. Di Kutip tanggal 17 Januari 2020 dengan judul Bacillus Cereus.

Indra Nuryadin. 2019. Uji Aktivitas Bakteri Menggunakan Metode Cakram Disk (Kirby – Bauer).
Di Kutip tanggal 17 Januari 2020 dengan judul Uji Aktivitas Bakteri Menggunakan Metode Cakram Disk (Kirby – Bauer). https://www.academia.edu/31537104/UJI_AKTIVITAS_BAKTERI_MENGGUNAKAN_METODE_CAKRAM_DISK_KIRBY-BAUER



Tidak ada komentar:

Posting Komentar